Docang, Kuliner Para Wali Songo

docang2

docang2CIREBONDocang, namanya mungkin belum setenar empal gentong atau nasi jamblang. Padahal, makanan khas Cirebon ini termasuk kuliner yang memiliki citarasa yang berbeda dan masuk dalam kategori makanan yang sehat. Jadi, sempatkan menyantapnya manakala singgah di Cirebon. Nama docang sendiri merupakan singkatan dari kacang dibodo (dibacem) atau tempe bungkil (dage) yang menjadi bahan utama dalam kuah docang ini. Sejarah docang tak lepas dari perjalanan penyebaran agama Islam di tanah Cirebon.

Dari segi tampilan, docang mirip lontong sayur. Isinya tauge, rajangan daun singkong rebus atau daun pepaya, lontong, dan taburan parutan kelapa di atas kuah kental berwarna kemerah-merahan. Tak ketinggalan kerupuk yang khusus didatangkan dari Kecamatan Plered, Cirebon. Rahasia kenikmatan docang adalah kuah rebusan dage atau kacang bungkil. Rasanya gurih menggugah selera. Ingin merasakan nikmatnya docang, coba datangi warung-warung docang yang banyak berada di seputaran pusat jajanan rakyat di wilayah Cirebon.

Salah seorang pemilik warung docang di kawasan Plumbon Kabupaten Cirebon, Ibu Aas, belum lama ini mengungkapkan, docang sendiri dipercaya sebagai makanan para wali di eranya dulu. Selain enak, docang juga makanan yang sehat karena bebas kolestrol, dengan isi semuanya berupa sayuran dan tidak menggunakan daging maupun lemak jeroan.

Lebih lanjut Ibu Aas menjelaskan, terdapat kisah menarik mengenai asal muasal terciptanya makanan tersebut. Ternyata asal muasal Docang berawal sejak jaman para wali. Dikisahkan, saat itu ada seorang Pangeran yang sangat membenci para wali karena menyebarkan agama Islam di pelosok Jawa. Pangeran itu berencana untuk meracuni para wali dengan cara menyajikan mereka makanan dari sisa-sisa makanan para Sultan yang tidak habis. Setelah itu dihidangkannya ke para wali yang sedang berkumpul di Masjid Agung Keraton Cirebon. Rencana jahat itu berhasil. docang yang disuguhkannya itu dimakan para wali. Tetapi ajaibnya, racun yang dicampurkan ke dalam docang itu tidak berpengaruh. Bahkan, setelah memakan docang itu, para wali justru menyukai masakan tersebut.

“Makanya sampai sekarang makanan ini masih menjadi makanan khas Cirebon karena dikenal sebagai makanannya para wali. Apalagi kalau menjelang puasa dan Maulid Nabi Muhammad SAW, pedagang docang pasti banyak kumpul di sekitaran Masjid Agung dan Keraton Kasepuhan, karena sejak dulu tradisinya sudah seperti itu,” pungkasnya. (c24MG)

Sumber : cirebontrust.com

7760 Total Views    4 Views Today

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below