Permasalahan Penanganan Sampah

Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Cirebon, Ir. Agung Sedijono, M.Si.

KEJAKSAN – Sampah selalu menjadi persoalan di kota-kota besar. Kota Cirebon dengan perkembangannya menjadi Metropolitan, termasuk yang merasakan sulitnya menangani sampah. Penanganan sampah dapat dilakukan maksimal dengan menyelesaikannya di tingkat Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS).

Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Cirebon, Ir. Agung Sedijono, M.Si., beberapa waktu yang lalu, menjelaskan, kuota Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Kopiluhur segera habis. Dalam jangka waktu tersebut, sampah tetap akan menumpuk dan tidak berkurang. Bahkan, semakin bertambah deras. Karena itulah, TPA Kopiluhur tidak dapat diandalkan lebih lama lagi sebagai tempat akhir pembuangan sampah. Untuk mengurangi beban TPA Kopiluhur sekaligus menangani persoalan sampah di Kota Cirebon, pihaknya menilai hanya ada satu cara efektif, yakni menghabiskan sampah di tingkat TPS. Caranya, dengan mengubah sampah organik menjadi kompos dan non organik menjadi barang bernilai ekonomis. “Itu bisa dilakukan di tingkat TPS. TPA Kopiluhur hanya menjadi seperti pabrik saja. Menurut saya ini solusi masalah sampah di Kota Cirebon,” ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut perlu dipertimbangkan, pasalnya TPA Kopiluhur sudah tidak dapat dikembangkan lagi. Meskipun ditambah luasan arealnya atau membuat dinding penahan tebing sekalipun, dikarenakan intensitas sampah yang tinggi tetap tidak akan tertampung pada waktu habis kuotanya.

Kemudian, terkait program zero waste atau sampah habis di tingkat RW, pihaknya turut mendukung. Hanya saja, hal tersebut tidak lantas menyelesaikan masalah persampahan. Berdasarkan hasil analisa instansinya, sampah habis di tingkat RW hanya mengurangi 5 persen dari total sampah yang ada. Sementara 95 persen lainnya tidak dapat diselesaikan. Karena itulah, tidak ada cara lain kecuali menyelesaikan sampah di tingkta TPS. “Sampah habis di tingkat TPS, diubah menjadi kompos dan barang guna pakai lebih efektif,” terangnya.

Agung menambahkan, berdasarkan hal yang telah dijabarkan sebelumnya, untuk itu diperlukan adanya alat pengubah sampah organik menjadi kompos. Dalam hal ini, pihaknya akan membantu inovasi teknologi yang dapat dikembangkan. “Harga alatnya murah, tapi harus ada jaminan pemeliharaan dan keamanan,” pungkasnya.

Sumber : radarcirebon.com

Baca juga :

4805 Total Views    4 Views Today

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below